Berpuasa Tapi Masih Suka Bohong
Larangan berbohong saat berpuasa telah disebutkan dalam hadits berikut
ini,
مَنْ
لَمْ
يَدَعْ
قَوْلَ
الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ
فَلَيْسَ لِلَّهِ
حَاجَةٌ
فِى
أَنْ
يَدَعَ
طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah
mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.”
(HR. Bukhari no. 1903)
“Bukanlah maksud syari’at puasa adalah menahan lapar dan dahaga saja.
Dalam puasa haruslah bisa mengendalikan syahwat dan memenej jiwa agar memiliki
hati yang tenang. Jika tidak bisa melakukan seperti itu, maka Allah tidaklah
menerima puasa tersebut.” (Fath Al-Bari, 4: 117)
Dampak Jelek Berbohong
1-
Berbohong memang teramat bahaya yang dapat mengantarkan pada sifat-sifat jelek
lainnya.
2-
Berbohong selalu menggelisahkan jiwa, berbedakan dengan sifat jujur yang selalu
menenangkan.
3-
Berbohong merupakan tanda kemunafikan.
Berbohong Saat Bercanda
Tidak boleh berbohong pula dalam bercanda, bersandiwara atau hanya
ingin membuat orang lain tertawa. Dari Bahz bin Hakim, ia berkata bahwa
ayahnya, Hakim telah menceritakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
وَيْلٌ لِلَّذِى
يُحَدِّثُ
فَيَكْذِبُ
لِيُضْحِكَ
بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ
“Celakalah bagi yang berbicara lantas berdusta hanya karena ingin
membuat suatu kaum tertawa. Celakalah dia, celakalah dia.” (HR. Abu Daud
no. 4990 dan Tirmidzi no. 3315. Al-Hafizh Abu Thaohir mengatakan bahwa sanad
hadits ini hasan)
Di antara faktor yang mendorong seseorang biasa berbohong:
- jauh dari agama,
- tidak takut akan siksa atau hukuman dari Allah di akhirat,
- ingin mendapatkan kebaikan yang cepat diperoleh di dunia,
- sudah jadi kebiasaan,
- hasil didikan yang jelek.


Tidak ada komentar