Kegigihan Ulama Dalam Menuntut Ilmu 01
Umar bin al-Khattab
Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari bahwasanya Umar bin al-Khattab berkata,
“Aku dan tetanggaku seorang Anshar (yakni Aus bin Khauli), seorang dari bani
Umayyah bin Zaid, kami saling bergantian mendatangi majelis Rasulullah ﷺ. Ia datang pada suatu hari dan aku pada
hari lainnya. Apabila aku yang menghadiri majelis, akan aku sampaikan kepadanya
tentang wahyu dan penjelasan lainnya pada hari itu. Apabila ia yang datang, ia
pun melakukan hal yang sama.” (HR. al-Bukhari dalam Kitab al-‘Ilm 89).
Umar bergantian dengan tetangganya karena mereka meluangkan waktu antara
belajar agama dan mencari nafkah. Kalau hidup di dunia yang fana ini butuh
usaha untuk mencukupinya, tentu kehidupan akhirat yang kekal butuh usaha ekstra
untuk bekalnya.
Abdullah bin Abbas
Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma bercerita
tentang perjalannya mempelajari agama. Mengambil bagian dari warisan Rasulullah
ﷺ. Ia berkisah, “Ketika Rasulullah ﷺ wafat, aku berkata kepada seorang
laki-laki Anshar, ‘Wahai Fulan, marilah kita bertanya kepada sahabat-sahabat
Nabi ﷺ, mumpung mereka masih banyak (yang hidup)
saat ini’. ‘Mengherankan sekali kau ini, wahai Ibnu Abbas! Apa kau anggap
orang-orang butuh kepadamu sementara di dunia ini ada tokoh-tokoh para sahabat
Rasulullah ﷺ sebagaimana yang kaulihat?’
Ibnu Abbas melanjutkan, ‘Aku pun meninggalkannya. Aku mulai bertanya dan
menemui para sahabat Rasulullah ﷺ. Suatu ketika, aku
mendatangi seorang sahabat untuk bertanya tentang suatu hadits yang kudengar
bahwa dia mendengarnya dari Rasulullah ﷺ.
Ternyata dia sedang tidur siang. Lalu aku rebahan berbantalkan selendangku di
depan pintunya, dan angin menerbangkan debu ke wajahku. Begitu keadaanku sampai
ia keluar.
Ketika ia keluar, ia terkejut dengan kehadiranku. Ia berkata, ‘Wahai
putra paman Rasulullah, kenapa engkau ini?’ tanyanya. ‘Aku ingin mendapatkan
hadits yang kudengar engkau menyampaikan hadits itu dari Rasulullah ﷺ. Aku ingin mendengar hadits itu darimu,’
jawabku.
‘Mengapa tidak kau utus saja seseorang kepadaku agar nantinya aku yang
mendatangimu?’ katanya. ‘Aku lebih berhak untuk datang kepadamu,’ jawabku.
Setelah itu, ketika para sahabat telah banyak yang meninggal, orang tadi
(dari kalangan Anshar tadi) melihatku dalam keadaan orang-orang membutuhkanku.
Dia pun berkata padaku, ‘Engkau memang lebih cerdas daripad aku’.” (Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, 1/310).
Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma menjelaskan
kisah ini, kisah kesungguhannya belajar agama. “Aku pernah datang ke rumah Ubay
bin K’ab. Saat itu ia sedang tidur. Kutunggu ia sambil tidur siang di depan
pintu rumahnya. Kalau Ubay tahu, pasti dia membangunkanku, karena dekatnya
kedudukanku (sepupu) dengan Rasulullah ﷺ.
Tapi aku tidak suka mengandalkan hal itu”.
Dalam riwayat lain, beliau radhiallahu ‘anhuma menyatakan,
“Aku mendekati tokoh-tokoh sahabat Rasulullah ﷺ
dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Aku bertanya kepada mereka tentang
peperangan Rasulullah ﷺ dan tentang ayat-ayat
Alquran. Setiap sahabat yang kudatangi pasti senang dengan kedatanganku karena
kedekatan nasabku dengan Rasulullah ﷺ.
Aku bertanya kepada Ubay bin Ka’ab radhiallahu ‘anhu.
Ia adalah seorang yang dalam ilmunya. Aku bertanya tentang ayat-ayat Alquran
yang turun di Madinah. Ia menjawab, ‘Di Madinah diturunkan 27 surat, dan
selainnya di Mekah’.” (Ibnu Saad dalam ath-Thabaqat al-Kubra,
2/371).
Bersambung..... Kegigihan Ulama Dalam Menuntut Ilmu 02


Tidak ada komentar