Kegigihan Ulama Dalam Menuntut Ilmu 02
Kisah selanjutnya adalah tentang kegigihan seorang ulama yang masyhur di zamannya dalam menuntut ilmu, berikut kisahnya:
Asy-Sya’bi
Beliau adalah seorang ulama tabi’in. Ia pernah ditanya, “Dari mana kau
peroleh seluruh ilmumu?” Ia menjawab, “Dengan cara tidak bersandar
(bermalas-malasan). Bersafar ke berbagai daerah. Sabar, sebagaimana sabarnya
keledai. Bersegera sedari pagi sebagaimana burung gagak”. (adz-Dzahabi
dalam Tadzkirah al-Huffazh, 1/81).
Imam asy-Syafi’i
Lihatlah bagaimana Imam asy-Syafi’i berlelah letih dalam belajar, hingga
ia mencapai derajat yang kita ketahui saat ini. Beliau rahimahullah bercerita tentang proses belajarnya,
“Aku telah menghafalkan Alquran saat berusia 7 tahun. Dan menghafal
al-Muwaththa (buku hadits yang disusun Imam Malik) saat berusia 10 tahun.” (Abu
al-Hajjaj al-Mizzi dalam Tadzhib al-Kamal,
24/366).
Menurut sebagian orang, alangkah beratnya masa kanak-kanak Imam
asy-Syafi’i. Namun apa yang ia capai di masa kecil melahirkan orang sekelas
dirinya di saat dewasa. Melalui dirinya, Allah ﷻ
memberikan manfaat kepada umat manusia. Kemanfaatan berupa ilmu. Tidak hanya
untuk orang-orang di zamannya saja. Tapi manfaat tersebut terus terasa hingga
jauh dari masa hidupnya. Hingga masa kita sekarang ini.
Imam asy-Syafi’i mengatakan, “Ketika aku telah menghafalkan Alquran (30
juz), aku masuk ke masjid. Aku mulai duduk di majelisnya para ulama.
Mendengarkan hadits atau pembahasan-pembahasan lainnya. Aku pun menghafalkannya
juga. Ibuku tidak memiliki sesuatu yang bisa ia berikan padaku untuk membeli
kertas (buku untuk mencatat). Jika kulihat bongkahan tulang yang lebar,
kupungut lalu kujadikan tempat menulis. Apabila sudah penuh, kuletakkan di
tempaian yang kami miliki.” (Ibnu al-Jauzi dalam Shifatu Shafwah, 2/249 dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq, 51/182).
Saat beliau mulai beranjak besar, antara usia 10-13 tahun, beliau butuh
kertas untuk menulis apa yang telah dipelajari, tapi tidak ada uang untuk
membeli kertas-kertas itu. Ia pergi ke suatu tempat untuk mendapatkan kertas
yang telah terpakai di satu sisi halamannya. Separuh lembar yang kosong itu,
beliau gunakan untuk mencatat ilmu (Abu al-Hajjaj al-Mizzi dalam Tadzhib al-Kamal, 24/361).
Untuk apa usaha besar itu dilakukan oleh Asy-Syafi’i kecil, padahal ia
masih terlalu muda? Jawabnya untuk ilmu yang menurutnya begitu berharga.
Ibnu Abi Hatim mendengar cerita dari al-Muzani, bahwasanya Imam
asy-Safi’i pernah ditanya, “Bagaimana obsesimu terhadap ilmu?” Imam asy-Syafi’i
menjawab, “Ketika aku mendengar suatu kalimat yang belum pernah kudengar, maka
seluruh anggota badanku merasakan kenikmatan sebagaimana nikmatnya kedua
telinga saat mendengarkannya.”
Beliau juga ditanya, “Bagaimana semangatmu dalam mendapatkannya?” Ia
menjawab, “Sebagaimana orang yang bersemangat mengumpulkan harta dan pelit
membaginya merasakan kenikmatan terhadap harta.”
Beliau ditanya pula, “Bagaimana engkau menginginkannya?” “Aku
menginginkannya sebagaimana seorang ibu yang kehilangan anaknya, tidak ada yang
dia ingin kecuali anaknya.” Jawabnya.
Kita bisa tahu, apa yang beliau ucapkan ini bukanlah omong kosong yang
tak bermakna. Kalau bukan dengan obsesi sebesar itu, semangat sehebat itu, dan
keinginan sekuat itu, tentu ia tidak menjadi seperti Syafi’i yang kita tahu.
Derajat imam (pemimpin) dalam ilmu itu tidak diperoleh dengan
santai-santai. Banyak hal yang harus dikorbankan. Sebagaimana kata Ibnu
Taimiyah, “Sesungguhnya kedudukan keimaman dalam agama hanya didapatkan dengan
kesabaran dan keyakinan.” (Ibnu Taimiyah dalam Majmu’
al-Fatawa, 3/358).
Dan Allah ﷻ mengajarkan kita
sebuah doa:
وَاجْعَلْنَا
لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Dan jadikanlah kami pemimpin orang-orang yang bertakwa.” (QS.
Al-Furqan: 74).
Menurut Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma maksud ayat ini adalah
“Jadikan kami pemimpin-pemimpin yang diteladani dalam kebaikan.” (Ibnu Katsir
dalam Tafsir al-Quran al-Azhim, 3/439).
.jpg)
.gif)

Tidak ada komentar