Kegigihan Ulama Dalam Menuntut Ilmu 03
Sufyan ats-Tsaury
Kemiskinan tidak menjadi penghalang belajar. Sedikitnya bekal tidak
menghalangi perjalanan. Itu pula yang terjadi pada Sufyan ats-Tsaury (ulama
generasi tabi’ tabi’in) rahimahullah. Ia
menjadi tokoh bangsa Arab. Seorang fakih dan ahli hadits. Digelari dengan amirul muknin fil hadits (pemimpin orang-orang
yang beriman dalam masalah hadits) tentu menggambarkan betapa tinggi
kedudukannya.
Sufyan berkisah, “Saat aku mulai belajar, aku mengadu (kepada Allah),
‘Ya Rabb, aku harus memiliki penghasilan. Sementara ilmu itu pergi dan
menghilang. Apakah aku bekerja mencari penghasilan saja? Aku memohon kepada
Allah kecukupan’.
Sufyan ats-Taury adalah seorang yang miskin dan belajar butuh modal.
Fokus belajar, membuatnya tidak punya harta untuk belajar. Tapi jika belajar
sambil bekerja, ilmu yang didapatkan hanya setengah-setengah, tidak optimal.
Kemudian Allah ﷻ memberikan jalan keluar
dan mengabulkan doanya. Doa tulus untuk mempelajari agama-Nya. Ibunya berjanji
menanggung keperluannya belajar. “Wahai anakku, belajarlah! Aku yang akan
mencukupkanmu dari hasil usaha tenunanku ini”, kata ibunya (Abu Nu’aim
dalam Hilyatul Auliya. 6/370).
Dengan usaha menenun, ibunya membelikan buku dan mencukupi kebutuhannya
dalam belajar. Tidak hanya mendanai Sufyan, ibunya juga selalu memberi semangat
dan menasihatinya agar terus giat memperoleh ilmu. Ibunya mengatakan, “Anakku,
jika engkau menulis 10 huruf, perhatikan… apakah ada pada dirimu perasaan
semakin takut (kepada Allah), semakin lembut, dan semakin tenang. Jika engkau
tidak merasakannya, ketahuilah apa yang kau pelajari memudharatkanmu. Tidak
bermanfaat untukmu.” (Ibnul Jauzi dalam Sifatu Shafwah,
3/189).
Nasihat ibu Sufyan juga sangat layak kita jadikan renungan. Introspeksi
diri yang mungkin jarang kita lakukan. Sudahkah ibadah kita makin giat, akhlak
semakin baik, dan rasa takut serta tawakal kepada Allah kian kuat, setelah kita
belajar?
Ibu Sufyan menjadikan 10 huruf, hanya 10 huruf, untuk introspeksi sejauh
mana pengaruh ilmu untuk dirinya.
Dengan lantaran ibunya, Sufyan ats-Tsaury menjadi Sufyan ats-Tsaury yang
kita tahu. Seorang pemimpin dalam ilmu dan imam dalam agama.
Jabir bin Abdillah
Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu adalah
seorang sahabat Rasulullah ﷺ yang memiliki
semangat luar biasa dalam mempelajari agama. Ia dan ulama-ulama lainnya tidak
mencukupkan diri belajar di negerinya sendiri. Mereka bersafar, melangkahi
jalan-jalan, menghilangkan ketidak-tahuan.
Kisah perjalanan mereka ini seperti dongeng. Karena mereka berjalan
bermi-mil hanya untuk sesuatu yang menurut sebagian orang adalah kecil.
Tantangan mereka pun berat dan fasilitas mereka tidaklah hebat. Perjalanan pun tetap
beralangsung.
Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu melakukan
perjalanan sebulan menuju Abdullah bin Unais radhiallahu ‘anhu,
hanya untuk satu hadits. Jabir bercerita, “Aku mendengar ada satu hadits yang
diriwayatkan oleh seorang dari sahabat Rasulullah ﷺ.
Lalu aku membeli seekor onta, dan kuikat bekalku sebulan pada onta itu. Tibalah
aku di Syam. Ternyata sahabat tersebut adalah Abdullah bin Unais. Aku berkata
kepada penjaga pintunya, ‘Katakan kepadanya, Jabir sedang di pintu’. Dia
bertanya, ‘Jabir bin Abdillah?’ Aku menjawab, ‘Ya’.
Lalu Abdullah bin Unais keluar dan dia merangkulku, aku berkata, ‘Sebuah
hadits, aku mendengarnya ada padamu, kamu mendengarnya dari Rasulullah ﷺ, aku khawatir mati atau kamu telah mati
sementara aku belum mendengarnya. Lalu ia menyebutkan hadits tersebut…”
(Riwayat al-Bukhari dalam Adabul Mufrad 970,
Ahmad 16085, dan al-Hakim 3638).
Setelah mendangar hadits tersebut, Jabir langsung pulang, kembali ke
Madinah. Tidak ada motivasi lain bagi dirinya, berangkat menuju Syam kecuali
satu hadits tersebut.

.gif)

Tidak ada komentar